Subhanallah, (VIDEO)Setiap Kali Masuknya Waktu Azan, Bilal yang sedang koma Ini Akan Kumandangkan Azan.

Allahu Akbar..Rutin tugasnya sebagai bilal yang mengalunkan azan setiap kali masuknya waktu solat membuatkan fizikal badannya terus melaksanakan tanggungjawab yang mulia itu walau dalam keadaannya tidak sedarkan diri.

Minda separuh sedarnya telah mengarahkan fizikal badannya untuk melaungkan azan walaupun beliau tidak mampu mengawal anggota badannya.

Betapa besar kuasa Allah SWT yang mengurniakan sesuatu kepada hambanya yang soleh dan ikhlas dalam melaksanakan tanggungjawab kepadanya.

Apa yang dilakukan seseorang selama hidup, itu juga yang akan terlihat ketika menjelang kem4tiannya. Seperti itulah yang terlihat dari seorang bilal masjid yang mengalami k0ma di rumah sakit dik3ranakan satu insiden.

Yang mengejutkan dari bilal tersebut adalah meski sedang mengalami k0ma dan tak sadarkan diri, namun ia akan bangun dari k0manya dan mengumandangkan adzan setiap waktu shalat.

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Barang siapa meninggalkan suatu amalan – bukan karena uzvr syar’i seperti s4kit, dalam perjalanan,

atau dalam kondisi l3mah di usia tua – maka akan terputus darinya pahala dan ganjaran jika dia meninggalkan amalan tersebut.”

Hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah yang berbunyi, “Jika seseorang s4kit atau melakukan perjalanan, maka amalannya akan dicatat sebagaimana amalan,

rutin yang dia lakukan ketika mukim (tidak bepergian) dan dalam keadaan sehat.” (Hadits Riwayat Bukhari No. 2996).

Melalui hadis ini dapat difahami bahawa bagi mereka yang meninggalkan amalan ibadahnya kepada Allah SWT bukan kerana sengaja tapi disebabkan keuzvran atau musafir, maka ganjarannya diterima sepertimana amalan iabadah rutinnya semasa dia sihat.

Penjelasan lanjut berkaitan hadith

Jika seseorang tidak mampu menghadiri shalat jama’ah padahal sebelumnya ia mampu hadir secara rutin, ingatlah keadaan seperti ini akan dicatat seperti ia melakukannya saat sehat dan kuat, yaitu sesuai dengan kebiasaannya ketika itu.

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Jika seorang hamba s4kit atau melakukan safar (perjalanan jauh), maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim dan ketika sehat.” (HR. Bukhari, no. 2996)

Hadits di atas menceritakan saat Yazid bin Abi Kabsyah puasa ketika safar (saat perjalanan jauh), Abu Burdah lantas mengatakan padanya bahwa ia baru saja,

mendengar Abu Musa menyebutkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti yang disebutkan di atas.

Imam Bukhari membawakan hadits di atas dalam bab:

يُكْتَبُ لِلْمُسَافِرِ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ فِى الإِقَامَةِ

“Dicatat bagi musafir pahala seperti kebiasaan amalnya saat mukim.” Dari hadits itu, Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan,

وَهُوَ فِي حَقّ مَنْ كَانَ يَعْمَل طَاعَة فَمَنَعَ مِنْهَا وَكَانَتْ نِيَّته لَوْلَا الْمَانِع أَنْ يَدُوم عَلَيْهَا

“Hadits di atas berlaku untuk orang yang ingin melakukan ketaatan lantas terhalang dari melakukannya. Padahal ia sudah punya niatan kalau tidak ada yang menghalangi, amalan tersebut akan dijaga rutin.” (Fath Al-Bari, 6: 136)

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْعَبْدَ إِذَا كَانَ عَلَى طَرِيقَةٍ حَسَنَةٍ مِنَ الْعِبَادَةِ ثُمَّ مَرِضَ قِيلَ لِلْمَلَكِ الْمُوَكَّلِ بِهِ اكْتُبْ لَهُ مِثْلَ عَمَلِهِ إِذَا كَانَ طَلِيقاً حَتَّى أُطْلِقَهُ أَوْ أَكْفِتَهُ إِلَىَّ

“Seorang hamba jika ia berada pada jalan yang baik dalam ibadah, kemudian ia s4kit, maka dikatakan pada malaikat yang bertugas mencatat amalan,

“Tulislah padanya semisal yang ia amalkan rutin jika ia tidak terikat sampai Aku melepasnya atau sampai Aku mencabut ny4wanya.” (HR. Ahmad, 2: 203. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih, sedangkan sanad hadits ini hasan)

Amalan yang dicintai oleh Allah adalah amalan yang berterusan, sebagaimana disebutkan dalam hadits,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang berterusan walaupun jumlahnya sedikit.” (HR. Bukhari, no. 6465; Muslim, no. 783; dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha).

Inti dari pembahasan, pentingnya beramal rutin (kontinu) karena saat kita ada keuzuran untuk beramal, tetap dicatat sebagaimana kita melakukannya secara rutin. Terapkan kaedah hadits di atas untuk masalah ibadah apa pun.

Oleh yang demikian, maka kita sebagai hambanya hendaklah sentiasa menjadikan amalan ibadah kepada Allah SWT sebagai rutin utama dalam kehidupan harian selain melaksanakan tugas dan tanggungjawab lain.

Semoga amalan rutin tersebut diberikan ganjaran pahala yang tak terbatas walaupun dalam keadaan s4kit/ keuzvran atau terhalang oleh sesuatu perkara yang lain.

Sumber:viralkan via majalah-harian.com & Rumaysho.com

PERHATIAN: Pihak admin tidak akan bertanggungjawab langsung ke atas komen-komen yang diberikan oleh pembaca kami. Ia adalah pandangan peribadi pemilik,

akaun dan tidak semestinya menggambarkan pendirian sidang redaksi kami. Segala risiko akibat komen yang disiarkan menjadi tanggungjawab pemilik akaun sendiri.

Sila pastikan anda berfikir panjang terlebih dahulu sebelum menulis komen anda disini. Pihak admin juga tidak mampu untuk memantau kesemua komen yang ditulis di sini. Segala komen adalah hak dan tanggungjawab anda sendiri.

Dah baca, jangan lupa like, komen dan share Ya.

Jangan lupa untuk follow kami di newshubs24.com dan laman page kami untuk perkongsian lebih banyak berita terkini dan ilmu bermanfaat di;